Entri Populer

Sabtu, 06 November 2010

ASUHAN KEPERAWATAN BRONKHO PENUMONIA

ASUHAN KEPERAWATAN
Pasien Dengan
BRONKHO PENUMONIA


A. Definisi :
Pneumonia merupakan suatu pada paru-paru yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing.
Klasifikasi :
Berdasarkan anatomiknya, pneumonia dibagi atas lobaris, pneumonia lobularis (bronco pneumonia) dan pneumonia interstitialis (bronkiolitis)
Berdasarkan eiologinya dibagi atas :
1. Bakteri
a. Pneumokok merupakan penyebab utama pneumonia. Pada orang dewasa umumnya disebabkan oleh pneumokok sero tipe 1 sampai 8, sedangkan anak-anak tipe 14, 16 dan 19 insidens meningkat pada usia lebih kecil 4 tahun dan menurun dengan meningkatnya umur
b. Streptokok, sering merupakan komplikasi dan penyakit virus lain seperti morbili dan varisela atau komplikasi penyakit kuman lain seperti perfusis, pneumonia oleh pneumokokus.
c. Basil gram negative seperti “H influenza”, P aueroginosa”, tubreculosa”
d. Streptokok lebih banyak pada anak-anak dan bersifat progesif, resisten terhdap pengobatan dan sering menimbulkan komplikasi seperti : abses paru, empiema, tension pneumothorax
2. Virus
Virus “Respiratory Syncytial”, virus influenza adena, virus sitomegalik
3. Aspirasi
Makanan, misalnya pada tetanus neonatorium, benda asing, kerosene (benda minyak tanah) dan cairan amnion
4. Pneumonia Hipstatik
Penyakit ini disebabkan tidur telentang telalu lama, misalnya pada anak sakit dengan kesadaran menurun atau penyakit lain yang harus istirahat di tempat tidur yang lama, sehingga terjadi kongesti pada paru belakang bawah, kuman tadinya komensal berkembang biak jadi pathogen dan menimbulkan radang oleh karena itu pada anak-anak yang menderita penyakit yang memerlukan istirahat lama seperti tipoid harus diubah-ubah posisinya.
5. Jamur
“Histoplasmosis Capsulatum”, “Candida Abbicans”,Blastomikosis, lasidiodomikosis, aspergilosis dan aktinomikosis.

B. Gejala Klinik
Bronko Pneumonia biasanya didahului oleh infeksi fraktus respiratorius bagian atas selama beberapa hari. Suhu dapat naik mendadak sampai 30oC – 40oC dan mungkin disrtai kejang karena demam tinggi anak sangat gelisah, sesak dan sianosis sekunder hidung dan mulut, pernafasan cuping hidung merupakan trias gejala yangpatognomonik, kadang-kadang disertai muntah dan diare. Batuk mula-mula kering kemudian jadi produktif
C. Pemeriksaan Fisik
Pada stadium awal sukar dibuat diagnosa dengan pemeriksaan fisik, tapi dengan adanya nafas cepat dan dangkal. Pernafasan cuping hidung disertai sianosis sekitar hidung dan mulut harus dipikikan kemungkinan pneumonia. Hasil pemeriksaan fisik tergantung dari pada luas daerah yang terkena. Pada perkusi toraks sering tidak ditemukan kelainan. Pada ausukultasi, suara nafas vesikuler melemah. Terdapat bronchi basah halus nyaring. Jika sering bronco pneumonia menjadi satu (“Confluens”) mungkin pada perkusi terdengar keredupan dan suara nafas mengeras


D. Pemeriksaan Penunjang
Secara laboratorik lekositosis, biasanya 15.000 – 40.000 / m dengan pergeseran ke kiri. Pengambilan secret secara bronkoskopi dan fungsi paru untuk preparat langsung, biakan dan tesresitensi dapat menentukan / mencari etiologinya, tetapi cara ini tida rutin dilakukan karena sukar. Foto roentgen dilakukan untuk melihat :
1. Komplikasi seperti empiema, atelektosis, perikarditis, pleurits dan OMA
2. Luas daerah paru yang terkena
E. Evaluasi Pengobatan
Pada bronkho pneumonia bercak-bercak inflitrat ditemukan pada stu atau beberapa lobus
F. Penatalaksanaan
Pada neonatus berikan :
1. Oksigen 2 liter / menit
2. IVFD (Intra Fluid Drip)
a. Jenis cairan adalah glukosa 10% Na Bic dengan perbandingan 4 : 1 sebelum menentukan cairan periksa gula darah. Bila kadarnya 0 – 45 mg%. suntikan Glu 40% cc dosis 2 cc / kk BB. Intravena
b. Berikan cairan dengan melihat kebutuhannya sebagai berikut :
Umur (hari ke) Kebutuhan (ml / kg BB / hari)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10-14
15-30 60
70
80
90
100
110
120
130
140
150
150


Setiap kenaikan suhu 1oC, kebutuhan cairan ditambah 12%
Tetesan dibagi rata dalam 24 jam :
1 ml : 15 tetes makrodrip
1 ml : 60 tetes mikrodrip
3. Pengobatan
a. Dasar pengobatan antibiotic berdasarkan etiologi dan tes resitensi berhubung hal ini tidak selalu dapat dikerjakan dan memakan waktu lama, maka dalam praktek diberikan pengobatan polifarmasi :
Penisilin prokain 50.000 unit / kb 66 / hari dan kanomisin 15 mg / kg bb / hari dalam dua dosis atau empisilin 100 mg / kg bb / hari dalam 9 dosis i.v dan gentamisin 5 mg / kag bb / hari dalam dua dosis i.m

b. Kortikosteroid
Kortison aseta 15 mg/kg bb/hari intramuskuler. Diberikan bila ekspirasi memanjang atau lender banyak sekali. Berikan dalam tiga kali pemberian
4. Pemeriksaan Rutin
a. Foto thorak
b. Astrup atau indikasi dan dilakukan evaluasi
c. Darah, urin, feses
d. Kadar glukosa darah
Pada bayi umur 1 bulan – 2 tahun, berikan
1. Oksigen
2. IVFD
a. Jenis cairan 2A.kcl (1 – 2 mek/kg bb/24 jam atau kcl 6 mek / 500 ml)
b. Kebutuhan cairan adalah sebagai berikut :
Kg –kk Kebutuhan (ml / kg bb / hari)
3 – 10
11 – 15
Lebih dari 15 105
85
65
c. Tetes dibagi rata dalam 24 jam
3. Pengobatan
a. Antibiotik
Penisiin prokain 50.000 u / kg bb / hari i.m dan kloramfenikol 75 ml / kg bb / hari dalam 4 dosis i.m / i.v atau ampisilin 100 mg / kg bb / hari i.m dalam dua dosis sehari
b. Kortikosteroid
Pemberian dan indikasi sma dengan pada neonatus
4. Pemeriksaan Rutin
a. Foto thorak
b. Astrup indikasi
c. Darah, urine, feses
d. Mt 1 / 2000 hanya di atas 2 bulan
e. Pemeriksaan lain atas indikasi, misalnya glukosa darah pada usia di atas 2 tahun, berikan :
1. Bila dispnue berat berikan o2
2. IVFD : Cairan DG 10% a atau caran 24 kcl, gluc 10% tetesan dibagi rata dalam 24 jam
3. Pengobatan : Penisilin prokain 50.000 u /kg bb / hari dan kloram fenikol 75 ml / kg bb / hari dibagi dalam 4 dosis
Pengobatan diteruskan sampai anak bebas panas selama 4 – 5













Diagnosa Keperawatan

1. Efektifitas jalan nafas terganggu b.d secret di jalan nafas
2. Gangguan peningkatan suhu tubuh b.d proses infeksi di pan
3. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi b.d vomitus
4. Ganggun pola tidur b.d tidak dapat batuk secara efektif
5. Kecemasan keluarga b.d kurang pengetahuan
6. Resiko pe kesadaran b.d obstruksi jalan

Diagnosa Keperawatan ke-1
Efektifitas jalan nafas terganggu b.d secret di jalan nafas

Rencana Tindakan :
1. Kaji kebutuhan oksigen
2. Bebaskan jalan nafas
3. Atur posisi semi fower
4. Psg gudel
5. Monitor vital sign
6. Kolaborasi medis dalam hal pemberian terapi

Diagnosa Keperawatan ke-2
Gangguan peningkatan suhu tubuh b.d proses infeksi di pan

Rencana Tindakan :
1. Kompres hangat / dingin di daerah frontal dan axial banyak minum
2. Monitor temperature
3. Ganti Pakaian bila basah
4. Monitor lutake out put
5. Kolaborasi medis dalam hal pemberian terapi

Diagnosa Keperawatan ke-3
Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi b.d vomitus

Rencana Tindakan :
1. Berikan makan porsi kecil tetapi sering
2. Pertahankan kebersihan mulut dan berikan lingkungan nyaman
3. Observasi intake makanan
4. Kolaborasi tim gizi untuk diet
5. Kolaborasi tim medik untuk pemberian terapi




Diagnosa Keperawatan ke-4
Gangguan pola tidur b.d tidak dapat batuk secara efektif

Rencana Tindakan :
1. Kaji masalah kualitas tidur
2. Kurang rangsangan lingkungan sekitar
3. Ciptakan ruangan segar dan nyaman
4. Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi
5. Lbatkan keluarga berikan support kepada keluarga

Diagnosa Keperawatan ke-5
Resiko pe kesadaran b.d obstruksi jalan

Rencana Tindakan :
1. Kaji tingkat kecemasan
2. Identifikasi kebutuhan penyuluhan
3. Berikan penyuluhan sesuai kebutuhan
4. Gunakan bahsa yang mudah dimengerti
5. Beri penjelasan ajarkan tentang prosedur perawatan di RS

Diagnosa Keperawatan ke-6
Kecemasan keluarga b.d kurang poengetahuan

Rencana Tindakan :
1. Kaji kebutuhan O2
2. Monitor Vital sign
3. Lakukan suction sesuai kebutuhan
4. Atur posisi medik untuk terapi

ASUHAN KEPERAWATAN DEMAM TIFOID

DEMAM TIFOID


I. Definisi
Adanya penyakit infeksi akut usus halus ditandai demam lebih dari satu minggu

II. Patofisiologi
Salmonella Typhi

Masuk ke tubuh

Melalui makanan dan Usus halus Dimusnakan oleh
Air tercemar asam lambung

Jaringan Limfoid Plaque Peyeri
Di ileum terminalis yang
Mengalami hipertrofi

Komplikasi perdarahan

Perforasi intestinal

Kuman S. Typhi menembus
Ke lamina propia

Aliran limfe

Kelenjar limfe mesenterial

Aliran darah hati

Demam tifoid
III. Etiologi
Salmonella bTyphi

IV. Manifestasi Klinis
Pada Minggu I
1. Demam
2. Nyeri kepala (pusing)
3. Nyeri otot
4. Anorexia
5. Mual, muntah
6. Obstifasi / diare
7. Perasaan tidak enak di perut
8. Batuk dan epitaksis
9. Pada pemeriksaan fisik (suhu badan tinggi)
Pada Minggu II
1. Demam
2. Bradikardi relative
3. Lidah tifoid (kotor di tengah, tepi dan ujung merah dan tremor)
4. Hepatomegali
5. Splenomegali
6. METEORISMUS
Gangguan kesadaran (somnolen sampai koma)

V. Komplikasi
1. Komplikasi Intestinal
a. Peradangan usus
b. Perforasi usu
c. Ileus paralitik

2. Komplikasi Ekstraintestinal
a. Komplikasi kardionvaskuler
b. Komplikasi darah
c. Komplikasi paru
d. Komplikasi hepar
e. Komplikasi ginjal
f. Komplikasi tulang
g. Komplikai neuropsikiatrik

VI. Pelaksanaan
1. Pemberian AB
a. Kloramfenikol
b. Ampissilin / amoksisilin
c. Kotrimoksazol
d. Sefalosporin
2. Istirahat
3. Diet dan terapi penunjang












RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

No Diagnosa Keperawatan Tujuan Rencana Tindakan
1.












2.
















3.


















4.







5.







6.














7.









8.
Gangguan peningkatan suhu tubuh badan infeksi kuman salmonella









Gangguan rasa nyaman, nyeri abdomen badan, infeksi kuman, salmonella












Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi badan vamitus















Gangguan pola eliminasi BAB konstipasi / diare badan infeksi kuman salmonella



Kecemasan keluarga badan kurang pengetahuan




Gangguan pemenuhan kebutuhan sehari-hari badan bedrest total










Resiko terjadi perdarahan gastro infektinal badan infektinal salmonella





Resiko berulang kembali penyakit badan kurang pengetahuan dan informasi Suhu tubuh normal
Kriteria :
S= Pasien mengatakan tidak panas lagi
O= Suhu tubuh kembali normal 36oC






Rasa nyaman terpenuhi
Kriteria :
S = Keluarga mengatakan nyeri hilang
O = Pasien tenang










Kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria :
S = Keluarga pasien mengatakan pasien mulai mau makan
O = Makan ¾ porsi dari yang diberikan











Pola eliminasi kembali normal
Kriteria :
S = Konstipasi / diare hilang
O = Pasien tenang


Cemas teratasi
Kriteria :
S = Keluarga pasien mengatakan mengerti
O = Keluarga nampak tenang


Kebutuhan sehari-hari terpenuhi
Kriteria :
S = Keluarga mengatakan kebutuhan sehari-hari pasien terpenuhi
O = Ku baik







Tidak terjadi perdarahan gastro infektinal
Kriteria :
S = -
O = Tidak dijumpai perdarahan pada mulut, hidung dan feses, Ku baik

Penyakit tidak berulang
Kriteria
S = Keuarga mengerti
O = Keluarga sering bertanya dan dapat diajak kerja sama  Kompres hangat dan dingin daerah frontal dan axial
 Monitor temperature
 Berikan intake yang cukup
 Anjurkan keluarga pasien bedrest dan minum yang banyak
 Ganti pakaian yang basah
 Untu diet
 Kolaborasi tim gizi
 Kolaborasi tim medik dalam hal pemberian terapi

 Berikan makanan porsi kecil tapi sering
 Pertahankan kebersihan mulut dan berikan lngkungan yang nyaman
 Observasi intake makanan
 Kolaborasi tim medis dalam hal pemberian terapi
 Berikan makanan porsi kecil tetapi sering
 Pertahankan kebersihan mulut dan berikan lingkungan yang nyaman
 Kolaborasi tim gizi untuk diet
 Kolaborasi tim medik untuk terapi

 Diare
 Beri minum yang banyak (oralit)
 Berikan cairan melalui parenteral (pasang infuse)
 Juga berikan lingkungan pasien
 Kolaborasi dengan tim dokter dan pemberian terapi
 Berikan makanan yang berserat
 Anjurkan pasien untuk banyak makan buah
 Kolaborasi dengan tim dokter dalam pemberian obat pencahar
 Kolaborasi dengan tim gizi untuk pemberian diet

 Berikan penjelasan tentang penyakit pasien dengan keluarga
 Alihkan perhatian pasien
 Libatkan keluarga dalam melakukan tindakan perawatan

 Bantu keluarga klien memenuhi kebutuhan sehari-hari
 Debatkan alat-alat yang diperlukan ibu pasien di samping tempat tidur


 Pantau kedaan umum pasien
 Monitor vital sign dan observasi perdarahan pada mulut, hidung dan feses
 Atur posisi senyaman mungkin pada posisi sim (bedrest total)
 Kolaborasi dengan tim gizi dalam pemberian diet
 -Kolaborasi dengan tim dalam pemberian terapi




Berikan penjelasan untuk di rumah mengenai pentingnya:
 Pengobatan
 Kontol ke dokter setelah pulang
 Diet
 Istirahat

ASUHAN KEPERAWATAN CEPHALO PELVIK DISPROPORTION

CPD
( Cephalo Pelvik Disproportion )


1. Pengertian
CPD adalah tidak ada kesesuaian antara kepala janin dengan bentuk dan ukuran panggul.

2. Mekanisme Persalinan
a. Kesempitan pada pintu atas panggul ( PAP )
- Pintu atas panggul dianggap sempit apabila Konjugata Vena kurang dari 10 cm atau diameter transversa urang dari 12 cm. oleh karena pada panggul sempit kemungkinan lebih besar bahwa kepala tertahan oleh PAP maka dalam hal ini serviks uteri kurang mengalami tekanan kepala. Hal ini dapat mengakibatkan inersia uteri serta lambannya pendataran dan pembukaan serviks. Apabila pada panggul sempit pintu atas panggul tidak tertutup dengan sempurna oleh kepala janin, ketuban bias pecah pada pembukaan kecil dan ada bahaya pula terjadinya prolapsus funikuli.

b. Kesempitan panggul tengah
- Pengukuran yang pasti dengan pelvimetri rontgenologik. Yang diukur adalah Distansia Interspinarum. Apabila ukuran ini kurang dari 9,5 cm, perlu kita waspada terhadap kemungkinan pada perushaan, apalagi bila diameter Sagiblis Osterior pendek pula. Pada panggul tengah yang sempitlebih sering ditemukan posisi okspitalis posterior persister / presentasi kepala dalam posisi lintang tetap ( transverse arrest )

c. Kesempitan pintu bawah panggul
- Pintu bawah panggul tidak merupakan bidang yang datar, terdiri dari atas segitiga depan dan segitiga belakang yang mempunyai dasar yang sama yakni distansia tuberum. Apabila ukuran yang terakhir ini lebih kecil dariada biasa maka sudut arkus publis mengecil pula ( < dari 80O ). Agar supaya dalam hal ini kepala janin dapat lahir diperlukan ruangan yang lebih besar pada bagian belakang pintu bawah panggul. Dengan diameter segitalis posterior yang cuup panjang persalinan pevaginaan dapat dilaksanakan, walaupun dengan perlukaan luas pada perineum. Dengan distansia tuberum bersama dengan diameter sagitalis posterior kuran dari 15 cm, timbul kemacetan pada kelahiran janin ukurn biasa.

3. Prognosis
Apabila persalinan dengan CPD dibiarkan berlangsung sendiri, apabila pengambilan tindakan yang tidak tepat timbul bagi ibu dan janin.
a. Bahaya pada ibu
- Partus lama yang seringkali disertai ketuban pada pembukaan kecil dapat menimbulkan dehidrasi serta asidosis dan infeksi intrapartum
- Dengan His yang kuat, sedang kemajuan janin dalam jalan lahir tertahan, dapat timbul regangan segmen bawah uterus dan pembentukan lingkaranretransi patologik ( Bandl ). Keadaan ini dinamakan Ruptur Uteri mengancam, apabila tidak segera mengambil tindakan untuk mengurangi regangan maka akan timbul rupture uteri
- Dengan perselisihan tidak maju kanan CPD, jalan lahir pada suatu tempat mengalami tekanan yang lama antara kepala janin dan tulang panggul
Hal ini menimbulkan gangguan sirkulasi dengan akibat terjadinya iskenia dan kemudian rekrosis pada tempat tersebut. Beberapa hari Post Partum akan terjadi Fistula Vesiko Servikalis atau Fistula Vesiko Vaginalis atau Fistula Rekto Vaginalis.

b. Bahaya pada janin
- Partus lama dapat meningkatkan kemtian perinatal, apalagi jika ditambah dengan infeksi intra partum
- Prolapsus Funinuli, apabila terjadi mengandung bahaya yang sangat besar bagi janin dan memerlukan kelahirannya dengan seger apabila ia masih hidup
- Dngan adanya CPD kepal janin dapat melewati rintangan pada panggul dengan mengadakan Movlage
- Selanjutnya tekanan oleh promontorium / kadang-kadang oleh simfisi pada panggul pican menyebabkan perlukaan pada jaringan di atas tulang kepala, malahan dapat pula menimbulkan fraktur pada OS parietalis.
4. Penanganan
a. Sectio Sesarea
- Secara elektif sebelum persalinan mulai / pada awal persalinan, direncanakan lebih dahulu dan dilakukan pada kehamilan cukup buln karena kesempitan pinggul yang cukup berat / karena terdapat CPD yang nyat. Selain ini section tersebut diselenggarakan pada kesempitan ringan apabila ada faktor-faktor lain yang merupakan komplikasi pada wanita yang mengalami masa infeetilitas yang lama, penyakit jantung, dll.
- Secara sekunder yakni sesudah persalinan berlangsung selama beberapa waktu, dilakukan karena mungkin, sedang syarat-syarat untuk persalinan pervaginaan tidak atai perlu dipenuhi.

b. Persalinan percobaan
Setelah dicapai kesimpulan bahwa ada harapan bahwa persalinan dapat berlangsung pervaginaan dengan selamat, dapat diambil keputusan untuk menyelenggarakan persalinan percobaan. Dengan demikian persalinan ini merupakan suatu test terhadap kekuatan His dan daya akomodasi termasuk kepala janin. Kedua faktor ini tidak dapat diketahui sebelum persalinan berlangsung selama beberapa waktu.
Mengenai penanganan khusu pada persalinan percobaan perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
- Perlu diadakan pengawasan yang seksama terhadap keadaan ibu dan janin
- Kualitas dan turunnya kepala janin dalam rongga panggul harus terus diawasi
- Sebelum ketuban pecah, kepala janin pada umumnya tidak dapat masuk ke dalam rongga panggul dengan sempurna, namun pada CPD ketuban tidak jarang pecah pada permulaan persalinan.
- Masalah yang penting tidak menentukan berapa lama partus percobaan boleh berlangsung.
























CPD
ASUHAN KEBIDANAN PADA CPD

LANGKAH I

Data Subjektif
a. Biodata

b. Riwayat kehamilan sekarang
- HPHT
- Gerak janin
- Tanda bahaya
- Keluhan umum
- Kecemasan

c. Riwayat kehamilan persalinan yang lalu
- Jumlah kehamilan ( GPA )
- Jumlah anak hidup
- Jumlah kelahiran premature
- Jumlah keguguran
- Jumlah persalinan dengan tindakan
- Riwayat pedarahan
- Riwayat kehamilan dengan hypertensi
- Berat badan bayi lahir

d. Riwayat kesehatan / penyakit yang diderita sekarang / yang lalu
- Masalah Cardio Vaskuler
- Hypertensi
- DM
- HIV / AIDS
- TBC, dll

e. Riwayat KB

f. Riwayat socsial ekonomi
- Status perkawinan
- Respon ibu / keluarga terhadap kehamilan
- Lingkungan keluarga
- Pengambilan keputusan dalam keluarga
- Pola makan
- Kebiasaan hidup
- Beban kerja dan kegiatan sehari-hari
- Tempat / petugas kesehatan yan diinginkan untuk membantu persalinan

g. Riwayat hidup

Data Objektif / Pemeriksaan Fisik
a. Pemeriksaan Umum
- Tanda-tanda vital ( keadaan umum, TD, Temp, Pols )
- Pengukuran TB dan BB

b. Pemeriksaan Khusus
- Instansi
- Kepala dan leher
- Payudara
- Abdomen
- Tangan dan kaki
- Pemeriksaan genetalia ( vulva oeden / tan )
- Palpasi ( kepold I, II, III, IV ), TBJ
- Auscultasi ( DJJ )
- VT
- Vagina
- Portio
- Pembukaan, ketuban
- Ukuran panggul dalam

c. Pemeriksaan Penunjang
- Laboratorium ( HB, CT, BT, golongan drah )
- USG
- Catatan terbaru dan sebelumnya

LANGKAH II : INTERPRESTASI DATA DASAR

Diagnosa kebidanan : Primipara / multi hami aterm dengan CPD

Data dasar :
1. HPHT

2. Inspeksi
- Tinggi badan kurang dari 145 cm
- Bentuk / ukuran panggul abnormal
- Tinggi fundus uteri lebih tinggi dari usia kehamilan

3. Polpasi
- Fundus uteri lebih tinggi dari umur kehamilan
- Bagian terbawah janin belum masuk PAP

4. PD
- Bagian terbawah belum termasuk PAP
- Ukuran panggul lebih kecil dari lingkaran kepala ( abnormal )

Masalah : Kecemasan OS untuk operasi secsio sesaria

Dasar : Kurang pengetahuan tentang CPD

Kebutuhan : Penjelasan prosedur tindakan Secsio Sesari

LANGKAH III : UNTUK MENDAPATKAN MASALAH POTENSIAL DAN MENGGANTI SIPASI PENANGANANNYA

Potensial
1. Ruptur Uteri
2. Gawat Janin

Antisipasi
- Monitor His, DJJ, kemajuan persalinan ( Partograf )
- KU ibu, vital sign
- Monitor ring bandle
- Keluhan ibu ( nyeri perut hebat )

LANGKAH IV : MENETAPKAN KEBUTUHAN TINDAKAN SEGERA KOLABORASI DENGAN DOKTER OBGIN

LANGKAH V : MENYUSUN RENCANA ASUHAN MENYELURUH

1. Monitor tanda vital
2. Monitor DJJ, His, menentukan tafsiran berat janin, menentukan kemajuan persalinan dengan partograf
3. Bila DJJ tidak normal beri O2
4. Monitor ring bandle
5. Monitor keluhan ibu ( nyeri perut )
6. Jelaskan tindakan yang akan dilakukan selanjutnya
7. Persiapan untuk tindakan SS
8. Lakukan semua advis dokter
9. semua tindakan dan hasil pemeriksaan di dokumentasikan

LANGKAH VI : PELAKSANAAN LANGSUNG ASUHAN DENGAN EFISIEN DAN AMAN
LANGKAH VII : EVALUASI

S = OS mengatakan tidak cemas lagi
= OS mau dioperasi

O = KU ibu naik
= DJJ normal
= Tidak ada tanda-tanda rupture

A = Operasi SS a/I CPD
= Pengobatan dan perawatan ibu dan bayi dilaksanakan dan didokumentasikan

P = Perawatan ibu dan bayi dilanjutkan
= Anjurkan ibu dan bayi untuk control ulang
= Home visit dijadwalkan

ASUHAN KEPERAWATAN HERPES ZOSTER

ASUHAN KEPERAWATAN
Pasien Dengan
HERPES ZOSTER


I. Definisi
Herpes zoster adalah penyakit yang disebabkan infeksi virus varisela
zoster yang menyaring kulit dan mukosa.Infeksi ini merupakan reaktivitas
virus yang terjadi setelah infeksi primer.Kadang-kadang infeksi primer berlangsung
subklinis.Frekuensi penyakit pada pria dan wanita sama,lebih sering mengenai usia
dewasa.
II. Manifestasi Klinis
Daerah yang paling sering terkena adalah daerah torakal.Gejalanya sistemik
seperti demam,pusing,malaise,maupun lokal seperti nyeri otot tulang,gatal,pegal.
Setelah itu timbul eritema yang dalam waktu singkat menjadi vesikel.Vesikel ini
berisi cairan bening kemudian menjadi keruh..Disamping gejala kulit di jumpai
pembesaran kelenjar getah bening regional.

III.Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan percobaan Tzank dapat ditemukan sel datia berinti banyak.

IV.Penatalaksana
Terapi sistemik umumnya bersifat simtomatik,untuk nyerinya diberikan analgetik
Jika disertai infeksi sekunder diberikan antibiotic.
Pada herpes zosteroftalmikus mengingat komplikasinya serta pasien dengan
defisiensi imunitasdiberikan antiviral atau imunostimulator.Antiviral yang biasa
diberikan adalah axiclovir sejak lesi muncul dalam 3 hari pertama karena lewat dari
masa ini pengobatan tidak efektif.Dosis anjuran 5x800 mg/hari selama 7 hari.Atas
pertimbangan biaya dapat digunakan 5x400mg selama 7 hari.Imunostimulator yang
biasa digunakan ialah isoprinosin 50mg/kg BB/hari,dosis maksimal 3000mg sehari.
Obat ini juga diberikan dalam 3 hari pertama lesi muncul.
Kortikisteroid diindikasikan untuk sindrom Ramsay Hunt untuk mencegah
fibrosis ganglion.Pemberian harus sedini mungkin untuk mencegah paralysis.
Biasannya diberikan prednisone. 3 x 20 mg/hari,setelah seminggu dosis diturunkan
secara bertahap.
Pengobatan tipical tergantung pada stadium.Pada stadium vesikel diberikan
bedak untuk mencegah pecahnya vesikel agar tidak terjadi infeksi skunder.Bila
erosive diberikan kompres terbuka.Kalau terjadi ulserasi dapat diberikan salep
antibiotic.







Diagnosa Keperawatan

1. Gangguan rasa nyaman nyeri pada ujung-ujung syaraf
b/d proses penyakit.
2. Peningkatan suhu tubuh b/d adanya infeksi pada tubuh.
3. Kecemasan keluarga mengenai penyakit b/d kurangnya pengetahuan


*Rencana Tindakan Diagnosa Keperawatan I
a. Kaji tingkat rasa nyeri os.
b. Atur posisi os senyaman mungkin.
c. Kolaborasi dengan tim medik.

*Rencana Tindakan Diagnosa Keperawatan II
a. Observasi vital sign os setiap 6 jam sekali
b. Anjurkan os untuk minum yang adekuat
c. Anjurkan os untuk memakai pakaian yang menyerap keringat.
d. Ganti baju os apabila basah.
e. Kolaborasi dengan tim medik

*Rencana Tindakan Diagnosa Keperawatan III
a. Kaji tingkat kecemasan os dan keluarga
b. Identifikasi kebutuhan penyuluhan
c. Berikan penyuluhan sesuai kebutuhan
d. Gunakan bahasa yang mudah di mengerti
e. Beri penjelasan dan ajarkan tentang prosedur perawatan di Rs.




















ASUHAN KEPERAWATAN
Pasien Dengan
PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK
(PPOK)



I. Definisi
Penyakit paru obstruktif kronik atau PPOK adalah penyakit obstruktif jalan
nafas karena bronchitis kronik.Obstruksi tersebut umumnya bersifat progresif
bisa disertai proggresif,bisa disertai hiperaktivitas bronkus dan sebagian bersifat
reversible.

II. Etiologi
1. Kebiasaan merokok
2. Polusi udara
3. Paparan debu,asap,dan gas-gas kimiawi akibat kerja.
4. Riwayat infeksi saluran nafas
5. Bersifat genetic yaitu defesiensi

III. Patofisiologis
Pada bronkitis akut maupun emfisema terjadi penyempitan saluran nafas.
Penyempitan ini dapat mengakibatkan obstruksi jalan nafas dan menimbulkan
sesak.Pada emfisema paru penyempitan saluran nafas disebabkan oleh kurangnya
elastisitas paru-paru.

IV.Manifestasi Klinis
1. Batuk
2. Sputum putih jika ada infeksi menjadi purulen
3. Sesak,sampai menggunakan otot-otot pernafasan tambahan untuk bernfas.

V. Diagnosis
1. Anamnesis
2. Pemeriksaan fisik :
- Pasien biasanya tampak kurus dengan “barrel-shaped chest”
- Perkusi dada hipersonor,peranjakan hati mengecil, batas paru hati lebih
rendah ,pekak jantung berkurang.
- Suara nafas berkurang dengan ekspirasi memanjang.
3. Pemeriksaan Radiologi
4. Pemeriksaan fungsi paru.
5. Pemeriksaan gas darah
6.Pemeriksaan EKG
7. Pemeriksaan laboratorium darah : hitung sel darah putih.



VI.Penatalaksanaan
1. Pencegahan : mencegah kebiasaan merokok,infeksi,dan polusi darah
2. Terapi ekserbasi akut dilakukan dengan :
a. Antibiotik,karena ekserbasi biasanya dissertai infeksi.Pemberian ampisililn
4 x 0,25-0,5 g/hari atau eritromisin 4 x 0,5g/hari.
b. Terapi oksigen diberikan jika terdapat kegagalan pernafasan karena hipperkapnia
dan berkurangnya sensitivitas terhadap CO2.
3. Terapi jangka panjang :
a. Antibiotik untuk kemoterapi preventif jangka panjang,ampisilin 4x0,25- 0,5/hari
dapat menurunkan kejadian eksaserbasi akut.
b. Latihan fisik untuk meningkatkan toleransi aktivitas fisik.
c. Mukolitik dan ekspektoran
d.Fisioterapi
e. Rehabilitasi,paien cendrung menemui kesulitan bekerja.




Diagnosa Keperawatan
1. Tidak efektifitasnya bernafas b/d secret di jalan nafas
2.